Mengenal Lebih Dekat Vaksin Astra Zeneca dan Sinopharm

Farmasi 
Program vaksinasi di Indonesia sudah berjalan sekitar 5 bulan dan telah mencakup 22% dari target populasi yang
divaksin sebesar 181,5 juta orang. Hingga saat ini telah digunakan vaksin CoronaVac dari Sinovac, Covid-19 dari
PT BioFarma, dan Vaksin AstraZeneca untuk program vaksinasi dari Pemerintah. Dalam waktu dekat, vaksin
Sinopharm dari China akan digunakan dalam skema vaksin gotong-royong. Tulisan ini akan membahas informasi
terkait dengan vaksin AstraZeneca dan Sinopharm yang saat ini banyak digunakan.
Vaksin AstraZeneca
Adanya kematian 3 orang pasca vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu memang menyisakan
rasa takut pada sebagian masyarakat. Tapi sebenarnya sudah dijelaskan oleh Prof Hindra, Ketua Komnas KIPI,
bahwa 2 dari 3 orang yang meninggal itu bisa dipastikan tidak berhubungan dengan vaksin, karena yang satu
adalah terinfeksi COVID dan yg satu mengalami radang paru. Sedangkan yang satu (alm. Trio) memang masih
perlu diinvestigasi mendalam mengenai kausalitasnya dengan vaksin AstraZeneca, dan telah dilakukan diotopsi
pada hari Senin tanggal 24 Mei 2021 yang lalu.
Banyak pertanyaan yang datang terkait dengan keamanan vaksin AstraZeneca, salah satunya adalah terkait dengan
berita-berita bahwa vaksin ini dapat menyebabkan pembekuan darah, yang bisa berakibat fatal yaitu kematian.
1. Benarkah Vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan pembekuan darah ?
Jawabannya adalah: dari hasil evaluasi European Medicines Agency (EMA), sejauh ini memang dijumpai
ada hubungan kuat antara kejadian pembekuan darah dengan penggunaan vaksin AstraZeneca, tetapi
kejadiannya SANGAT JARANG. Sampai tanggal 5 Mei 2021, di Eropa telah ada laporan kejadian
pembekuan darah akibat vaksin ini sebanyak 262 kasus, dengan 51 diantaranya meninggal, dari penggunaan
sebanyak 30 juta dosis vaksin. Jika dihitung, maka prosentase kejadiannya sangat kecil sekali. Itulah makanya
EMA, semacam BPOMnya Eropa, masih menilai bahwa kalaupun memang vaksin ini dapat menyebabkan
reaksi pembekuan darah, manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya, sehingga vaksin ini tetap boleh
diberikan.
2. Apa penyebab pembekuan darah oleh Vaksin AstraZeneca?
Mekanisme pastinya masih dipelajari, tetapi seorang peneliti Jerman, Greinacher, menduga bahwa reaksi
pembekuan darah yang jarang ini berkaitan dengan platform vaksinnya, yaitu viral vector menggunakan
adenovirus. Memang belum bisa dipastikan, tetapi penelitian sebelumnya menggunakan platform adenovirus
ternyata menghasilkan reaksi yang sama, yaitu aktivasi platelet yang menyebabkan pembekuan darah. Dan reaksi
yang sama ternyata juga dijumpai pada penggunaan vaksin Johnson and Johnson yang menggunakan platform
yang sama, yaitu adenovirus. Penggunaan vaksin Johnson & Johnson sempat dihentikan di Amerika dan setelah
dievaluasi bisa digunakan kembali.Diduga ada reaksi imun yang berlebihan terhadap vaksin yg berasal dari
adenovirus, ketika vaksin tersebut berikatan dengan platelet, kemudian memicu serangkaian reaksi imun yang
menyebabkan terjadinya pembekuan darah. Reaksi ini sebenarnya bisa membaik sendiri, tetapi ada yang bisa
berakibat fatal. Reaksi semacam ini mirip dengan reaksi yang dijumpai pada pasien yang sensitive terhadap
heparin, suatu obat pengencer darah. Alih-alih mengencerkan darah, malah yang terjadi darahnya membeku.
Reaksi ini disebut heparin-induced thrombocytopenia and thrombosis (HITT or HIT type 2). Mungkin analoginya
adalah reaksi syok anafilaksis akibat pemberian antibiotik golongan penisilin, yang jarang terjadi, dan tidak selalu
bisa diprediksi.
3. Apa gejala-gejala terjadinya pembekuan darah yang harus diwaspadai?
Pembekuan darah yang terjadi akibat vaksin AstraZeneca kebanyakan dijumpai pada pembuluh darah di daerah
kepala, yang disebut cerebral venous sinus thrombosis (CVST). Gejala-gejalanya adalah : Sakit kepala yang hebat,
kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual, muntah, gangguan berbicara. Bisa juga dijumpai nyeri
dada, sesak nafas, pembengkakan pada kaki atau nyeri perut. Kadang dijumpai lebam di bawah kulit. Jika
terdapat gejala-gejala demikian, segera saja mencari bantuan medis. Di Eropa, reaksinya umumnya terjadi 3- 14 hari
setelah vaksinasi. Gejala-gejala semacam sakit kepala yang hebat dan tidak tertahankan juga sempat dialami oleh
almarhum Trio, yang mungkin memang mengalami pembekuan darah. Namun demikian hal ini masih perlu
dipastikan, karena kejadiannya sangat cepat. Yang perlu dipahami adalah bahwa dari sekian ribu yang menerima
vaksin AstraZeneca di Indonesia, hanya 1 orang yang dilaporkan meninggal dengan dugaan tersebut, yang
menunjukkan bahwa hal tersebut lebih dipengaruhi oleh reaksi individual subyek dibandingkan dengan kualitas
vaksinnya. Tindakan men-suspend vaksin dengan nomer batch CTMA457 merupakan upaya untuk menginvestigasi
dan memberikan jawaban yang transparan terhadap kasus ini. Pertanyaan yang menarik adalah mengapa yang disuspend sementara hanya batch tersebut dan tidak semuanya? Ya, sebenarnya itu memang prosedur jika terjadi KIPI
yang fatal untuk menginvestigasi kemungkinan ada faktor dari vaksinnya terhadap kasus kematian tersebut.
Mungkin bisa dianalogikan dengan ketika terjadi kecelakaan pesawat, tentu yang diinvestigasi adalah pesawat yang
mengalami kecelakaan, dan tidak harus menghentikan semua penerbangan sementara banyak yang membutuhkan.
Dan hasil investigasi BPOM menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca nomer batch CTMA457 tidak ada masalah
dengan kualitas terkait keamanan, sehingga kemudian dapat digunakan kembali. Dengan demikian, maka kejadian
KIPI yang berakibat meninggal tersebut bukanlah karena faktor vaksin, tetapi karena faktor respon subyek secara
individual terhadap vaksin.
Vaksin Sinopharm
Vaksin Sinopharm merupakan vaksin buatan China dan telah diujikan di beberapa negara. Vaksin Sinopharm
telah masuk dalam list WHO dan mendapatkan EUA di China, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir dan Yordania,
dan kini juga di Indonesia. Vaksin ini menggunakan platform yang sama dengan vaksin Sinovac, yaitu virus yang
diinaktivasi. Dalam uji klinik di Uni Emirat Arab, efikasi vaksin Sinopharm mencapai 78%, dan vaksin ini dapat
digunakan pada populasi usia 18 tahun ke atas sampai lansia. Karena memiliki platform yang sama dengan vaksin
Sinovac, maka profil efek sampingnya juga mirip, di mana frekuensi kejadian efek sampingnya adalah 0,01 persen
atau terkategori sangat jarang.
- Efek sampng/KIPI yang mungkin timbul dari vaksin Sinopharm
Efek samping yang dijumpai dalam uji klinik adalah efek samping lokal yang ringan, seperti nyeri atau kemerahan
di tempat suntikan, dan efek samping sistemik berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare dan batuk. Efekefek samping ini segera membaik dan umumnya tidak memerlukan pengobatan.
- Saran untuk program vaksinasi
Masyarakat tidak perlu kuatir dengan efek samping vaksin, baik vaksin AstraZeneca maupun Sinopharm. Secara
umum, dari hasil eveluasi terhadap uji klinik yang telah melibatkan ribuan orang di berbagai negara, manfaat
vaksin jauh melebihi risiko efek sampingnya. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) secara umum bersifat ringan
sampai sedang dan bersifat individual, dan adanya KIPI juga menunjukkan bahwa vaksinnya sedang bekerja.
Namun jika ada KIPI yang dirasa berat, segera saja dilaporkan kepada kontak yang sudah diberikan untuk bisa
segera mendapatkan penanganan. Selain ditangani, KIPI juga akan dievaluasi oleh Komite KIPI terkait dengan
hubungan kausalitasnya dengan vaksin sehingga bisa menjadi data yang berharga dalam program vaksinasi